…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah-216)
Suatu hal mendadak mengetuk hati saya dan mengingatkan saya akan ayat di atas. Saat itu, saya sedang berada di sebuah masjid yang berada di areal gedung perbelanjaan, menunggu waktu maghrib tiba. Menjelang waktu maghrib,seorang laki-laki memasuki masjid, kemudian merapikan hijab dan mempersiapkan segala sesuatu. Jujur, saya kurang simpatik melihat penampilannya, celana jeans belel, kaos hijau garis-garis, ditambah lagi potongan rambut yang aneh-aneh. Saya melihatnya sambil lalu saja.
Kemudian tibalah waktu sholat maghrib. Saya pun sibuk bersiap untuk mengikuti jamaah sholat maghrib. Tiba-tiba, ibu saya yang sejak tadi di sebelah saya nyeletuk, ” Lho, imamnya itu kan mas-mas yang benerin hijab tadi to, Nduk?” Rupanya ibu juga sempat memperhatikan mas-mas tadi. ” Memang bener ya, kita nggak boleh nilai orang dari fisiknya saja. Subhanallah,” ujar ibu seakan tahu isi hati saya.
Kejadian itu benar-benar mengejutkan saya. Ternyata kata mutiara, nasihat, bahkan ayat Al-Qur’an memang mudah sekali dibaca. Seringkali kita mengabaikan dan menganggap remeh karena kata-kata tersebut sudah sangat ramah di telinga kita. Namun ternyata untuk menyimpannya di hati dan menerapkannya tidaklah mudah.
Selama ini kebanyakan orang (terutama saya) masih saja menilai sesuatu secara visual, nalar, logika. Bukankah logika manusia pun terbatas? Begitu juga cara seseorang dalam menghadapi suatu peristiwa. Misalnya saja, untuk siswa SMA penting baginya agar dapat diterima di jurusan IPA. Untuk calon mahasiswa, penting baginya agar dapat diterima kuliah di kedokteran. Untuk mahasiswa, penting baginya agar memperoleh IP memuaskan. Jika tidak? Sungguh, bukanlah siatu kiamat jika kamu tidak menerima segala sesuatu itu. Manusia yang cerdas adalah yang peka dan dapat belajar dari peristiwa yang terjadi padanya. Kita boleh saja ikhtiar, namun suatu kesalahan jika kita mengharuskan keinginan tercapai.
Segala sesuatu yang baik di hadapan kita, belum tentu baik menurut Allah, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu,janganlah sekali-sekali menilai sesuatu dari sekedar apa yang tampak. berhusnudzon itu perlu, terutama husnudzon terhadap Allah. bahwa Allah telah menyiapkan skenario terbaik untuk umatnya :)